

Dari mana asal fabel si Kancil saya kurang tahu. Tampaknya cerita rakyat ini merata di Tanah Melayu dan Indonesia Bagian Barat. Dia berkembang dalam tradisi lisan, kemudian dibukukan. Dari sekian versi “kanonisasi” itu yang terkenal adalah episode mencuri timun.
Apakah kancil memang binatang cerdik (dan nakal) seperti anjing kecil? Entahlah. Kesan saya, kancil itu pemalu dan tidak jail. Mantri Kewan bisa menjelaskan soal tabiat si kancil berikut pola makannya (doyan madu dan timunkah?).
Yang pasti citra kancil sebagai makhluk mungil-gesit-cerdas telah mengilhami beberapa pebisnis. Nama Kancil untuk bisnis saya ketahui pertama kali perbukuan Malaysia (Kancil Mas). Sedangkan nama Kantjil untuk jasa boga saya lihat pada sebuah mobil boks di Amsterdam — sayang foto jepretan saya hilang.
Seterusnya, seperti Anda tahu, kancil jadi nama produk otomotif di Malaysia dan Indonesia. Lantas Ki Gugel melaporkan sejumlah perusahaan yang memakai nama kancil. Misalnya pabrik mi milik Jap Tjin Tja. Selebihnya carilah di Halaman Kuning.
Sebelas cerita, apakah sudah mewadahi banyak versi si kancil? Ahli kancilologi, dan si Kancil sendiri, pasti lebih tahu. Begitu pula Bu Murti Bunanta, ahli tentang buku cerita anak-anak itu.
Dalam buku ini ada Kancil mengakali buaya dan macan. Begitu pula kisah sabuk Nabi Sulaiman dan gong Nabi Sulaiman. Dalam versi buku ini, Kancil dikalahkan oleh rombongan siput dalam adu lari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar